Senin, 26 Juli 2010

BAB III. RANGKAIAN KEGIATAN PRAKTEK KERJA LAPANG

A. Pengolahan Minyak Sawit
Pengolahah minyak kelapa sawit di PTP. Nusantara XIII (Persero) meliputi beberapa proses pengolahan antara lain :
1. Pemanenan.
a) Tujuan
1. Mengetahui cara panen dan penggunaan alat,
2. Mengetahui kriteria panen dan standar TBS,
3. Mengetahui sistem pemanenan.
b) Dasar teori
Kriteria matang panen merupakan indikasi yang dapat membantu pemanen agar memotong buah pada saat yang tepat. Kriteria matang panen di tentukan pada saat kandungan minyak maksimal dan kandungan Asam Lemak Bebas atau free fatty acid (ALB atau FFA) minimal (Fauzi. dkk, 2008).
Pemanenan yang dilakukan sesuai prosedur merupakan kunci sukses perusahaan, dimana kegiatan pemanenan adalah untuk mengetahui keadaan buah, persentase produksi, dan kondisi CPO yang akan dihasilkan sesuai anggaran yang sudah direncanakan (Pahan. 2000).

Pemanenan dilakukan di kebun TABARA dengan menilik hasil pengamatan berdasarkan fraksi buah/ tingkat kematangan buah. TBS dapat dipanen apabila telah memenuhi kriteria yaitu fraksi 1, 2 dan 3. Dasar kriteria ini dapat dilihat pada tabel 03.
Tabel 03 : Kaitan Antara Umur Tanaman dengan Jumlah Berondolan.
Umur Tanaman Menghasilkan Jumlah Brondolan di Piringan
< 10 Tahun 5
≥ 10 Tahun 10
Sumber : Riska 2004
Perbandingan persentase jumlah berondolan tiap fraksi dapat dilihat pada tabel 04 berikut ini :
Tabel 04: Hubungan Antara Fraksi TBS, Derajat Kematangan, dan Jumlah Berondolan.
Fraksi Derajat Kematangan Jumlah Berondolan
00 Sangat Mentah Berondolan 0, buah masih hitam
0 Mentah Berondolan 1% – 12,5% buah luar
1 Kurang Matang Berondolan 12,5% – 25% permukaan luar
2 Matang I Berondolan 25% – 50% permukaan luar
3 Matang II Berondolan 50% – 75% permukaan luar
4 Lewat Matang I Berondolan 75% – 100%
5 Lewat Matang II Buah dalam ikut memberondol
6 Tandan Kosong Semua buah membrondol, busuk







Sumber : Riska 2004

Sumber : Riska 2004
Kriteria matang panen untuk mengetahui banyaknya minyak dalam tiap tandan buah kelapa sawit dan juga untuk mengetahui kualitas buahnya maka perlu diketahui keadaan TBS yang masuk kepabrik.
Untuk keperluan ini maka diperlukan sortasi sesuai dengan kriteria panen yang dibagi dalam delapan fraksi:
1) Fraksi 00 - Sangat Mentah
Tidak ada buah yang lepas dari tandan atau membrondol dan buah sawit masih berwarna hitam.
2) Fraksi 0 – Mentah
Untuk tandan yang beratnya 10 kg jumlah buah yang membrondol kurang dari 10 brondolan, sedangkan tandan yang beratnya dibawah 10 kg jumlah buah yang membrondol kurang dari 5 brondolan.
3) Fraksi 1 – Kurang Matang
Untuk tandan yang beratnya lebih dari 10 kg jumlah buah yang membrondol lebih 10 brondolan sampai 25% brondolan buah lapisan luar, sedang tandan yang beratnya 10 kg jumlah buah yang membrondol 5 brondolan sampai 25% brondolan buah lapisan luar.
4) Fraksi 2 – Matang I
25 – 50 % buah lapis dan luar telah membrondol.
5) Fraksi 3 – Matang II
50 – 75 % buah lapisan luar telah membrondol.
6) Fraksi 4 – Lewat Matang I
75 – 100 % buah lapisan luar telah membrondol.
7) Fraksi 5 – Lewat Matang II
Buah dalam sudah ada yang ikut membrondol.
8) Fraksi 6 – Tandan Kosong
Buah telah habis memberondol sehingga hanya tersisa tandan yang telah membusuk.
c) Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada proses pemanenan adalah dodos, kapak siam, egrek (arit bergagang panjang), sedangkan bahan yang digunakan adalah Tandan Buah Segar (TBS).
d) Prosedur Kerja
1. Mengamati buah berdasarkan fraksi,
2. Membersihkan pelepah-pelepah yang terdapat dibawah TBS,
3. Memanen TBS dengan menggunakan eggrek,
4. Meratakan pangkal tangkai TBS,
5. Mengumpulkan TBS di Tempat Pengumpulan Hasil (TPH),
6. Buah siap diangkut.
e) Hasil yang dicapai
Pada umumnya alat yang digunakan dalam proses pemanenan adalah dodos yang biasanya dilakukan untuk pohon sawit yang mempunyai ketinggian rata–rata 2 – 5 meter dipanen dengan cara jongkok, sedangkan tanaman yang memiliki ketinggian 5 – 10 meter dipanen dengan cara berdiri alat yang digunakan dalam proses ini adalah kapak siam, sementara untuk tanaman yang memiliki ketinggian rata-rata diatas 10 meter menggunakan alat egrek/arit bergagang panjang. Untuk alat yang digunakan PTP. Nusantara XIII adalah egrek alasannya karena tinggi tanaman yang ada di PTP. Nusantara XIII memiliki ketinggian lebih dari 10 meter.
Di PTP. Nusantara XIII farksi buahyang masuk kriteria panen adalah fraksi I, II, dan III. Adapun fraksi 00, 0, IV, V, dan VI tidak masuk kategeri yang dipanen karena akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas yang dihasilkan.
Di PTP. Nusantara XIII pada umumnya menggunakan sistem 5/7 dan 6/7 dengan rotasi 7 hari yang artinya :
5/7 = panen dilaksanakan selama 5 (lima) hari dalam satu minggu per kadvelt.
6/7 = panen dilaksanakan selama 6 (enam) hari dalam satu minggu per kadvelt.
Di PTP. Nusantara XIII dilakukan ancak panen sehari sebelum di lakukan panen. Ancak panen dapat ditentukan dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1. Penentuan ancak panen didasarkan pada kondisi topografi lapangan,
2. Areal berbukit dan rendahan dilaksanakan dengan sistem ancak giring,
3. Areal datar dilaksanakan dengan sistem ancak tetap/ladang,
4. Persentase panen yang dilaksanakan selama 5/6 hari dalam 7 hari,
5. Apabila pemanenan pada suatu kapel belum selesai dalam sistem 5/7 dan 6/7 maka akan diteruskan pada hari libur/minggu dengan syarat upah premi murni.
2. Transportasi Buah.
a) Tujuan
1. Mengangkut buah hasil panen dari kebun menuju pabrik
2. Melakukan penimbangan berat TBS.
b) Dasar teori
Buah yang telah di panen harus segera dikumpulkan dan diangkut ke TPH yang terdekat. Tandan–tandan tersebut disusun rapi di TPH dan kemudian diangkut mobil ke pabrik. Truk mulai mengangkut TBS sekitar jam 09.00 pagi ke pabrik, semakin dekat lokasi dengan pabrik maka akan semakin cepat pula mobil tersebut sampai kepabrik.
Menurut Setyamidjaja (2003), buah kelapa sawit hasil pemanenan harus segera diangkut ke pabrik, agar segera diolah. Buah yang tidak segera diolah akan menghasilkan minyak dengan kadar asam lemak bebas/ALB (free fatty acid) tinggi.
Pengangkutan dari kebun kepabrik berpengaruh terhadap mutu TBS yang diterima pabrik. Buah kelapa awit hasil pemanenan harus segera diangkut kepabrik, agar segera dapat diolah, buah yang tidak segar jika diolah akan menghasilkan minyak dengan kadar ALB tinggi. Untuk menghindari terbentuknya ALB pengolahan akan segera dilakukan paling lambat 8 jam setelah pemanenan. ALB pada kelapa sawit diakibatkan oleh kegitan enzim lipase yang biasanya terjadi sebelum pemprosesan buah dilaksanakan. Buah kelapa sawit mengandung enzim lipase yang sangat aktif yang dapat memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol bilamana struktur buah matang tersebut rusak.
Buah kelapa sawit yang sudah matang dan segar mengandung 0,1 % asam lemak. Tetapi buah – buahanhpecah atau memar dapat mengandung ALB sampai 50%, hanya dalam beberapa jam saja. Bahkan apabila buah dibiarkan begitu saja tanpa perlakuan khusus, dalam 24 jam kandungan ALB dapat mencapai 67 %. Untuk membatasi terbentuknya ALB buah kelapa sawit harus segera dipanasi dengan suhu 90oC – 100oC sebelum pelepasan daging buah. Dengan cara ini asam lemak yang terbentuk akan sedikit saja.




c) Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam proses transportasi adalah Truk, mobil Pick Up dan Gancu.
d) Prosedur Kerja
1. Mengangkat TBS yang telah dikumpulkan di TPH ke truk / Pick Up,
2. Membawa TBS ke pabrik pengolahan.
e) Hasil yang dicapai
Setelah buah selesai dipanen dan diangkut ke pinggir jalan angkut, maka truk / pick up yang bertugas mengangkut TBS langsung mengumpulkan TBS di jalur jalan angkut, untuk dibawa ke pabrik agar sesegera mungkin di olah di pabrik. Pengangkutan dilakukan dengan mobil truk dan pick up yang masing – masing berkapasitas 7 – 8 ton untuk truk, dan 1,5 – 2,5 ton untuk pick up.
Di pabrik sebelum buah di bongkar di loading ramp, truk pengangkut harus melalui proses penimbangan terlebih dahulu. Masalah yang di hadapi dalam proses pengangkutan adalah apabila keadaan cuaca yang buruk / terjadi hujan dan jalan / medan akan menjadi licin dan susah untuk dijangkau truk, di perkebunan TABARA untuk menanggulangi masalah ini di sediakan pick up untuk melangsir buah yang terdapat pada medan yang susah untuk di jangkau tersebut.

3. Penerimaan Buah dan Sortasi.
a) Tujuan
1. Menghitung berat/jumlah TBS yang masuk ke pabrik,
2. Mensortasi buah yang mentah, buah janjang kosong, buah kurang matang, dan buah kelewat matang.
b) Dasar Teori
Buah yang akan diproses harus memiliki tingkat kematangan buah yang cukup atau sesuai dengan standarnya. Sehingga apabila hasil grading tidak sesuai dengan standar tingkat kematangan buah yang diolah, maka pihak pabrik berhak memberikan peringatan terhadap pihak kebun, khususnya pemanen. (Olivia, 2006).
c) Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam proses penerimaan dan sortasi buah adalah, Timbangan otomatis dengan kapasitas 30 ton, loading ramp, truk / pick up dan gancu, sedangkan bahan yang digunakan adalah TBS.
d) Prosedur Kerja
1. melakukan penimbangan pada truk / pick up yang berisi muatan TBS,
2. petugas melakukan sortasi pada saat yang bersamaan dengan pembingkaran TBS.
e) Hasil yang dicapai
Setelah truk pengangkut buah melalui proses penimbangan, maka buah akan di bongkar diloading ramp. Proses penimbangan akan menentukan berat/jumlah TBS yang terangkut ke Pabrik. Metode yang digunakan yaitu truk ditimbang dua kali pada saat masuk dan pada saat keluar. Berat pada penimbangan pertama (berat truk+berat TBS) dikurangi berat pada penimbangan kedua (berat truk kosong) sama dengan berat netto TBS.
Buah yang telah dibongkar langsung dilakukan sortasi pada waktu yang bersamaan dengan pembongkaran buah. Di Pabrik Samuntai (PASAM) terdapat 2 (dua) buah loading ramp, loading ramp bagian timur di khususkan untuk penimbunan buah dari kebun plasma, disini pada waktu pembongkaran buah langsung di sortasi oleh petugas sortasi, sementara untuk loading ramp bagian barat dikhususkan untuk penimbunan buah dari kebun inti, disini tidak lagi dilakukan sortasi karena buah telah di sortasi oleh krani muat pada waktu buah akan dimuat ke truk, kecuali yang terlewat dan terlihat oleh petugas.
4. Perebusan Buah.
a) Tujuan
1. Melunakkan dan memudahkan pelepasan buah,
2. Inaktifasi enzim,
3. Mengurangi kadar air.
b) Dasar Teori
Prosese perebusan dengan menggunakan uap (steam) adalah untuk merebus TBS dengan cara perpindahan panas. Perpindahan panas yang terjadi ada 2 peristiwa perpindahan yaitu perpindahan panas secara konveksi (dari uap ke brondolan), dan perpindahan panas secara konduksi yaitu panas atau kalor masuk kedalam kernel dan lapisan bawah dari TBS. (Olivia, 2006).
Sterilizer merupakan alat atau media perebusan TBS yang berbentuk tabung/slinderis dengan kapasitas tampung lori 4 buah atau sekitar 40 ton. Tabung Sterilizer terbuat dari plat timah, aluminium dan campuran seng steinlees, sehingga pada saat terjadi perbusan kemungkinan besar tidak akan terjadi kontaminasi dari tabung tersebut. (Pahan, 2000).
Lori-lori yang telah berisi TBS dimasukkan ke ketel perebusan dengan bantuan seperti loko, capstand, dan lier. TBS dipanaskan dengan uap air yang bertekanan 2,8-3 kg/cm2. Setiap ton TBS memerlukan ± 0,5 ton uap air yang dihasilkan oleh ketel uap. Tekanan uap harus berada antara 2,8-3 kg/cm2 dan lamanya perebusan berkisar 90 menit. Selanjutnya gunakan sistem perebusan triple peak. Pengawasan disini harus ketat karena jika tekanan uap tidak cukup maka persentase buah yang tidak lepas dari tandan akan tinggi. Isi satu ketel rebusan bermacam-macam, ada yang 4 untuk pabrik kecil dan ada yang 10 untuk pabrik besar (Risza, 2004).
c) Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam proses perebusan adalah sterilizer (ketel perebusan), lori, gancu bergagang, mesin pancang, rantai besi, dan traktor mini. Sedangkan bahan yang digunakan adalah TBS dan steam / uap.
d) Prosedur Kerja
1. Mengisi lori dengan TBS,
2. Memasukkan lori kedalam ketel perebusan,
3. Mengeluarkan lori dari ketel perebusan,
4. Menarik lori untuk diteruskan ke stasiun penebah.
e) Hasil yang dicapai
TBS yang telah ditimbun di loading ramp dan telah melalui proses sortasi oleh petugas sortasi dimasukkan kedalam 12 buah lori yang berkapasitas 2.5 ton/lori, untuk selanjutnya di masukkan kedalam sterilizer / ketel perebusan untuk selanjutnya dilakukan proses perebusan. Di PASAM terdapat 3 (tiga) buah sterilizer, yang masing – masing mampu merebus sebanyak 12 buah lori sekali masuk. Perebusan dilakukan untuk melunakkan buah, mempermudah proses pelepasan buah dari tandan dan untuk menghentikan kerja enzim – enzim, serta untuk mengurangi kadar iar dalam buah. Perebusan dilakukan dengan sistem 3 ( tiga ) puncak (Triple Peak System) sebagai berikut :







Grafik 01 : Grafik Sistem 3 Puncak (Triple Peak System).
5. Penebahan Buah
a) Tujuan
1. Melepaskan buah dari janjangan,
2. Mempermudah proses pelumatan dan pengepresan.

b) Dasar Teori
Setelah proses perebusan buah (sterilisasi) segera dilakukan pelepas buah dari tandan dengan mesin perontok buah berupa bejana silinder (berputar 25-35 rpm).Pada proses ini kehilangan masih mungkin terjadi karena buah terbanting dalam mesin perontok buah dan mengeluarkan minyak yang dapat diserap oleh tandan kosong. Buah yang lepas di angkut ke stasiun penggilingan (digester) melalui fruit elevator. Sedangkan tandan kosong dibawa kekebun digunakan sebagai suplemen pupuk.
Threshing adalah proses pelepasan brondolan dari janjang atau tandannya dengan cara membanting TBS yang sudah direbus tersebut di dalam drum (slinder) yang berputar (thresher). Brondolan yang lepas akan lewat pada kisi-kisi thresher kemudian dibawa ke stasiun press oleh conveyor dengan bantuan elevator. Sedangkan janjang kosong akan dibawa ketempat pembuangan dengan bantuan Empty Bunch Conveyor (EBC). Putaran yang digunakan adalah 14 – 15 rpm. (Olivia, 2006).
Risza (2004), menjelaskan bahwa setelah perebusan, lori ditarik keluar, kemudian diangkut ke atas dengan hoisting crane. Dengan alat pengangkut ini lori yang berisi buah rebusan ini dibalikkan di atas mesin penebah (stripping) yang berfungsi melepaskan buah dari tandan. Buah yang lepas (berondolan) jatuh ke bawah dan melalui conveyor serta elevator dibawa menuju ketel adukan (digester).
c) Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam proses penebahan buah adalah lori, hosting crane, autofedder, thresser, Conveyor Under Thresser (CUT), fruit elevator, conveyor thresse. Sedangkan bahan yang digunakan adalah TBR (Tandan Buah Rebus).
d) Prosedur Kerja
1. Mengangkat TBR menggunakan hosting crane,
2. Menumpahkan hosting crane auto fedder,
3. TBR akan terbawa dan terpisah antara buah dengan janjangan.
e) Hasil yang dicapai
TBS yang telah selesai di rebus dalam sterilizer selama 90 menit (TBR) di bawa ke stasiun penebah dengan menggunakan hosting crane untuk kemudian ditumpahkan di autofeeder untuk mendistribusikan TBR ke thresser, di thresser TBR di pisahkan antara buah dengan tandan kosong dengan menggunakan sistem bantingan. Untuk buah yang telah dipisahkan dari tandan langsung dibawa menggunakan Conveyor Under Thresser (CUT) dan kemudian diteruskan di fruit elevator untuk di bawa ke conveyor thresser di bagian atas untuk selanjutnya buah langsung masuk ke digester untuk proses pemisahan antara biji dengan mesocarp atau daging. Untuk tandan kosong, setelah pemisahan di thresser langsung di bawa ke incenerator dengan menggunakan inclined conveyor/screw conveyor.
6. Pelumatan buah.
a) Tujuan
1. Melumatkan brondolan / buah,
2. Mempermudah proses ekstraksi minyak.
b) Dasar Teori
Menurut Anonim (2004) Digester merupakan pengadukan brondolan dari Thresher sampai homogen. Screw Press merupakan pengepressan terhadap brondolan yang homogen untuk mendapatkan rendemen yang maksimal dan Nut yang pecah minimal.
Digester terdiri dari tabung silinder yang berdiri tegak yang di dalamnya dipasang pisau – pisau pengaduk ( stirring arms ) sebanyak 6 tingkatan yang diikatkan pada poros dan digerakkan oleh motor listrik. 5 tingkat pisau di bagian atas digunakan untuk mengaduk dan melumatkan sedangkan pisau bagian bawah disamping sebagai pengaduk juga digunakan untuk mendorong brondolan keluar dari digester.
Buah yang masuk ke dalam digester diaduk sedemikian rupa sehingga sebagian daging buah telah terlepas dari dagingnya. Untuk memudahkan proses pelumatan diperlukan panas dengan suhu 90-95oC dengan menggunakan uap jenuh yang bertekanan 3 kg/cm2 yang diinjeksikan langsung atau dengan pemanasan mantel. Terhambatnya pengeluaran minyak akan menyebabkan minyak berfungsi sebagai pelumas pisau sehingga mengurangi efek pelumatan pisau digester.
Temperatur di dalam digester diusahakan jangan sampai 1000C karena minyak dan air akan bersatu membentuk emulsi yang akan menyulitkan pada proses pemisahan minyak nantinya (Siahaan ddk, 2007).
c) Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam proses pelumatan buah adalah conveyor under thresser, bottom cross conveyor, fruit elevator, fruit distributing conveyor dan digester, sedangkan bahan yang digunakan adalah brondolan / buah rebus.
d) Prosedur Kerja
1. Buah dibawa oleh conveyor under thresser, dan dilanjutkan oleh bottom cross conveyor, lalu diteruskan oleh fruit elevator, serta fruit distributing conveyor,
2. Buah masuk kedalam digester untuk dilumat,
e) Hasil yang dicapai
Buah yang selesai dipisahkan dari tandan, langsung dibawa conveyor under thresser, yang kemudian dilanjutkan dengan menggunakan bottom cross conveyor dan kemudian dilanjutkan ke fruit elevator untuk dibawa oleh fruit distributing conveyor yang akan mendistribusikan buah ke stasiun kempa. Disini buah dimasukkan ke digester untuk dilakukan pencacahan / pelumatan buah dengan menggunakan pisau buah hingga terlepas antara daging dan biji, yang akan dibawa ke screw press untuk proses ekstraksi minyak. Pelumatan ini berfungsi untuk memudahkan keluarnya minyak pada proses ekstraksi.
7. Ekstraksi Minyak
a) Tujuan
1. Mengekstraksi minyak dari daging buah,
2. Memudahkan proses pemurnian minyak.
b) Dasar Teori
Menurut Setyamidjaja (2003), minyak yang keluar dari mesin pengepres mengandung 45% - 55% air, lumpur dan bahan – bahan lainnya. Minyak yang masih kasar ini kemudian dibawa ke tangki pemurnian atau tangki klarifikasi.
c) Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam proses ekstraksi minyak adalah screw press, Desanding tank / sand trap , Vibro Energizer, dan Crude Oil Tank (Tangki Sementara), dan bahan yang digunakan adalah daging buah.


d) Prosedur Kerja
1. Buah yang selesai dilumat di digester dibawa ke screw press,
2. Minyak kasar mengalir ke desanding tank / sand trap,
3. Minyak kasar disaring di vibro energizer,
4. Minyak ditampung di crude oil tank (tangki sementara).
e) Hasil yag dicapai
Setelah buah mengalami proses pelumatan (digester) buah langsung di transfer ke screw press untuk mengalami proses pengepresan. Disini daging buah yang telah di lumat akan dipisah antara minyak kasar dengan serat melalui proses pengepresan dengan menggunakan screw press yang telah terancang untuk mengepress daging buah tanpa memecahkan inti, di sini buah di press untuk memisahkan antara minyak kasar dengan ampas. Ampas dan biji kemudian di bawa oleh CBC (Cake Breaker Conveyor), untuk dilakukan proses pemisahan antara biji dengan ampas yang telah di press untuk di bawa ke blower (Defericarper). Untuk minyak kasar langsung di bawa ke Desanding tank / sand trap untuk di saring di Vibro Energizer, dan kemudian di tampung di Crude Oil Tank (Tangki Sementara).



8. Pemurnian Minyak
a) Tujuan
1. Memisahkan antara minyak dengan kotoran (lumpur, pasir, dan air),
2. Memurnikan minyak.
b) Dasar Teori
Risza (2004), menuliskan bahwa melalui stasiun terakhir ini minyak dimurnikan secara bertahap untuk menghasilkan minyak sawit mentah (CPO). Proses pemisahan minyak dengan air dan kotoran ini dilakukan dengan sistem pengendapan, sentrifugal, dan pemanasan/penguapan, selanjutnya CPO disimpan dalam tangki timbun (CPO storage).
c) Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam proses pemurnian minyak adalah CST (Continous Setling Tank), sludge oil tank, strainer dan pre cleaner, sludge separator, sludge separator, oil storage tank / tangki timbun, oil tank, oil purifier, vacum drier, weighing machine dan sludge oil recovery, sedangkan bahan yang digunakan adalah minyak kasar.



d) Prosedur Kerja
1. Minyak yang ditampung di crude oil tank disalurkan ke CST (continous settling tank),
2. Minyak yang berada di bagian bawah disalurkan ke sludge oil tank,
3. Minyak disentrifugasi dengan menggunakan sludge separator, lalu ditampung di tangki sementara,
4. Minyak dialirkan kembali ke CST,
5. Kotoran hasil sentrifugasi ditampung di sludge oil recovery,
6. Minyak yang berada di bagian atas dialirkan ke oil tank,
7. Minyak dimurnikan dengan menggunakan oil purifier,
8. Minyak dialirkan ke vacum drier untuk proses pengeringan,
9. Minyak ditampung di weighing mechine untuk dipompa ke oil storage tank / tangki timbun.
e) Hasil yang dicapai
Setelah dipisahkan dari daging buah, minyak kasar di saring dengan vibro energizer untuk menyaring sisa – sisa serat yang kecil, kemudian minyak kasar ditampung di cruide oil tank (tangki sementara), untuk disalurkan ke CST (Continous Setling Tank) untuk dilakukan proses pengendapan, di CST minyak kasar akan di pisahkan antara lumpur dan pasir serta kotoran – kotoran lainnya.
Minyak yang berada di bagian bawah langsung di alirkan ke sludge oil tank, untuk di lakukan proses sentrifugasi / pemisahan antara kotoran (pasir, lumpur, air) dengan minyak, dengan menggunakan alat yang bernama strainer dan pre cleaner dan selanjutnya di teruskan pada sludge separator, minyak yang dihasilkan dari sludge separator akan ditampung di tangki sementara untuk kemudian dialirkan kembali ke CST, untuk kotoran yang tersaring dikumpulkan di sludge oil recovery untuk mengutip minyak yang tersisa, minyak yang tersisa akan dijadikan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel skala pabrik.
Minyak yang berada di bagian atas dialirkan ke oil tank untuk diproses dengan menggunakan oil purifier untuk proses pemurnian minyak dan selanjutnya dilakukan proses pengeringan dengan menggunakan vacum drier. Kemudian minyak yang dihasilkan dari vacum drier ditampung menggunakan weighing machine untuk di alirkan ke oil storage tank / tangki timbun dan kemudian diangkut ke IT3M (Instalasi Tangki Timbun Tanah Merah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar